About Me

Foto saya
Loves Fam, Loves M Harris Syaputra, Loves Friends.

Senin, 14 November 2011

I trust no one, whoever you are.

Welcome back to this site.

Sudah lama ngga menulis, dan rasanya banyak sekali kejadian yang ingin diuraikan seperti biasa..
Well, what's going on everyone?
Still stand up and believe at anyone?

Lagi iseng di kamar asrama temen, jadi galau hahaha..
Whatever that you think, this is my page. Nobody can make me stop or delete of this, I have a voice and I'll grow it.
Sebenarnya sampai sekarang masih kurang paham, apasih penafsiran agama itu?
Kenapa banyak sekali orang yang salah tafsir atas sebuah kepercayaan.
Menganggap agamalah penuntun mereka, tetapi mereka menggunakannya dengan cara yang menjijikkan.
Kerudung tidak menjadi jaminan how beautiful you are. Bahkan bisa menjadi goresan negatif terhadap orang yang melihat atas persepsi mereka.
Karena tidak semua wanita berkerudung itu mulia ternyata, banyak hati mereka yang busuk.
Mengaku mengabdi kepada yang menciptakan, tetapi perlakuan mereka tidak bisa diserap menggunakan akal logika.
Last but no least, I just wanna say if this is my page. My freedom. Whatever that I've shown.
Kekaguman terhadap wanita yang kuat atas agamanya pun sekarang bukan menjadi alasan utama.
Hati mereka teracuni atas persepsi yang salah. Persepsi yang menurut mereka benar dalam agama, tetapi tidak benar dalam realita.
Harus disangkut pautkan seperti apa logika dengan syariat?

Meskipun belum berjilbab dan seutuhnya mengerti atas syariat, setidaknya gue paham atas apa itu agama.
Kata-kata "monggo, inggih" dan segala macamnya yang membuat seseorang teracuni dan terhipnotis? That was stink.
Kesadaran dimata mereka belum tentu kesadaran dimata bersama.

That you know? I trust no one.
The figure who has hero before, changes become disgusting right now.
Wherever my beliefs? Nothing.

Satu-satunya hal yang gue pelajari ialah..
Mengidolakan, mengagungkan sesuatu atau seseorang yang selama ini menjadi the number first for at all in your mind, bisa berubah menjadi boomerang buat dirimu sendiri.
Dan tidak ada satupun yang dapat dipercaya.

So that I call, I trust no one.

Let me up at my feet, and at my mind. I don't need for the hero, atau apapun itu yang justru menjatuhkan dirimu sendiri.
I trust no one.
I trust no one.
I trust no one.

Yang harus gue pikirkan sekarang dan detik ini ialah, I've to be unpredictable person.
Dan gue ngga akan pernah menyalah artikan maksud agama.
Itu sebuah keyakinan diri sendiri, keyakinan yang benar untuk diri sendiri dan untuk bersama.
Syariat? Logika? Sebagai seorang yang sangat intelek harus bisa menyekatnya.
Gue mahasiswa UI, and I'm stronger than you are.

Satu hal yang gue dapet, wanita tidak selamanya berhati mulia.
Sehingga gue harus menjadi salah satu wanita yang sangat mulia, dan tentunya masuk akal.

Perhatian, tulisan ini sangat jauh kaitannya dengan hubungan asmara.
Because I trust no one, I just trust my God and myself.

Rabu, 22 Juni 2011

Seandainya

Seandainya..
Seandainya dan seandainya..
Seandainya kau mengerti dan memahami perasaanku.

Sulit ku akui.
Sulit sekali bagiku untuk mengerti.

Aku harus menunggu sebuah kepastian.
Dan dengan menunggu itu aku harus mencoba.
Mencoba mengikutimu yang pasrah terhadap waktu.

Kita sama-sama tak tahu kemana arah akan membawa.
Dan dengan tenang kau melewatinya.
Aku tahu ketenanganmu hanya kamuflase belaka.
Terlebih aku, aku hanya berharap diberikan sebuah ketenangan.

Aku belum paham apa keinginanmu.
Terlebih aku harus menahan egoku.
Menahan ego yang sejujurnya aku tak tahu untuk apa.
Semua berdasarkan perasaanku.

Rasa putus asa selalu hadir.
Entah mengapa seperti tak akan ada kesempatan untukku tersenyum dengan bebas.
Senyumku harus selalu tertahan.
Selama keputusan yang sebenarnya belum terjadi.

Sejujurnya rasa amarahku memuncak.
Memuncak sekali!
Jikalau kau mengerti apa yang aku perbuat selama ini demi kau,
Rasanya aku malu apabila aku bertukar posisi denganmu

Sudahlah.
Sudah tak ada yang bisa diperbuat.
Pengandaianku hanya akan tetap menjadi pengandaian.
Dan semua perasaanku harus tetap tertahan.

Apakah aku harus menjadi orang yang pintar bersandiwara?
Atau lebih tepatnya jika aku bisa pulang ke masa lalu.
Aku memilih untuk tidak menjadi salah satu yang paling kau sayangi.
Karena aku tahu, aku membebanimu.

Selasa, 03 Mei 2011

When am I going to be the priority?

I relented for you, you, you, and for the latest I said for you.

I don't know why as long as my course I never be the one.

Occasionally, I'll be the single-heart. No man, no cry.

For you, you, you, and you, you always be the major for my yarn.

God, can you alter the fabrics be the pebbles?

I know You can alter everything, from out of the question to be obvious.

Like for this time, please grant my wish to alter the zero to be hero.

I had been feeling my course never fair.

I always bring into being you, you, you, and you the one.


Jika aku bisa aku ingin menjadikanmu, kamu, kamu, dan kamu pilihan yang seharusnya tidak dipilih.
Jika aku bisa aku ingin mengajakmu, kamu, kamu, dan kamu bertukar posisi.
Jika aku bisa aku ingin membawamu, kamu, kamu, dan kamu ke masa lalu.
Jika aku bisa aku ingin membuatmu, kamu, kamu, dan kamu menghilang dari kehidupanku.


Bisa dibilang aku ini egois, bukan bisa dibilang lagi tapi memang iya.
Tapi aku ngga pernah ngerasain adanya suatu keadilan.
Ingin rasanya aku menjadi pilihan yang memang seharusnya dipilih, bukan menjadi pilihan yang dipilih karena dipaksa. Padahal aku selalu menjadikan kamu, kamu, kamu, dan kamu suatu pilihan yang dipilih karena tidak adanya paksaan.

Semua orang menganggap aku ini aneh, memang.
Karena ngga ada satupun diantara mereka yang mengerti menjadi orang aneh seperti aku.
Semua orang bilang A, cuma aku yang berpendapat B? Ya karena mereka belum pernah merasakan jadi B.
Aku ngga tau harus cerita sama siapa, ngga ada yang bisa mengerti perasaanku. Semua mengangap aku ini aneh.
Semua menganggap aku ini pagar yang membatasi, beton yang menghalangi.

Rasanya aku ingin teriak, ingin teriak sekencang-kencangnya!
Rasanya aku ingin marah, aku ingin pergi jauh ke manapun itu yang penting aku bisa bebas dari pikiran ini.
Terkadang aku berpikir, kenapa setiap kali aku mendapat kesenangan kenapa harus mendapat ujian lagi?
Kenapa?
Setiap kali aku mulai bisa bernapas lega, aku harus merasakan tercekik kembali.

Aku bingung harus cerita sama siapa, harus memeluk siapa, dan siapa yang harus mengusap air mataku.
Aku seperti anak SMP, begitu "kamu" yang terakhir mengkritik tentangku.
Tetapi sama sekali tidak menyenangkan dengan kondisi anak SMP seperti ini.
Kenapa aku tidak pernah dijadikan olehmu, kamu, kamu, dan kamu suatu pilihan yang memang seharusnya dipilih?
Padahal aku telah bercerita dengan "kamu" yang terakhir bagaimana kamu, kamu, kamu, dan kamu ku jadikan suatu prioritas yang tidak ada bandingannya.

Air mataku jatuh lagi, rasanya ingin ku kunci.
Air mataku selalu jatuh, karena aku ngga pernah merasakan suatu pilihan utama.
Kenapa aku harus dijadikan pilihan dengan dipilih karena dipaksa?


Why do I have to always be an option, not a

choice that should indeed be selected?

suatu pertanyaan yang mungkin tak akan pernah terjawab.



Jumat, 18 Maret 2011

I need someone to hold me on

I need someone to hold me on
When you'll go on
I need someone to hold me on
When you're not beside me

I need someone to make me better
I need someone to be like you

When you say
You'll always loving me
I can't handle my feeling
I can't let you go

Rather to breathe
Rather to sleep
Rather to eat
Rather for everything

Baby I know what you want
That's hard for us
Baby I know that I'm so childish
That's why I love you

I need someone to hold me on
I need you to hold me on

Kamis, 16 Desember 2010

Sampah

Gue kesel banget demi apapun. Gue kesel, dan gue sakit hati..
Sama ya sama orang, yang sekarang nangkring di rumah gue.
Maaf, gue udah bener2 sakit hati banget ya.
Dia itu sodara gue, terserah kek mau frontal mau apa.

Dia selalu mencampuri semua urusan gue.
SEMUA.

Memangnya lo siapa? Bokap gue aja ngga pernah sebawel lo.
Mentang2 lo keterima ya di kerjaan?
Semenjak lo disini lo cuma bisa ngritik gue, ngatain, dan ngerendahin gue.

Hallo?
Emang lo pikir gue sekolah, berangkat pagi pulang malem, les ini itu, punya ambisi, itu ngga ada tujuannya?
Nih gue buktiin, gue bisa rangking satu di sekolah gue.

Lo ngatain gue sombong, tapi lo gimana?
Lo ngatain gue sombong, lihat dong diri lo!
Lo sama aja, TAKABUR. NGEBANGGAIN APA YANG LO PUNYA, TAPI LO NGATAIN GUE.

Lo ngatain gue manja, kenapa?
Bokap gue masih mampu ngebiayain gue.
DAN GUE NGGA NYALAH GUNAIN APA YANG BOKAP GUE KASIH KE GUE.
Kenapa lo yang repot ha?
Kenapa lo yang berisik?
Lo pikir gue ngebuang gitu aja semua?
GUE MASIH PUNYA OTAK YA, DAN SUATU SAAT GUE JANJI BAKAL NGEBALIKIN ITU SEMUA KE BOKAP NYOKAP GUE.

Lo cuma ngeliat gue dari sisi item aja ya, GUE JUGA PUNYA PEMIKIRAN PANJANG!
Gue paling benci diremehin dan direndahin.
LIAT AJA, SUATU SAAT GUE BAKAL NGERENDAHIN LO BALIK.

Kamis, 02 September 2010

Sepucuk Surat

02 September 2010

Kepada yang tersayang, M Harris Syaputra

Tampaknya air mata harus ku keluarkan lagi, dengan bercucuran seperti biasanya.
Entah apa yang membuatku "gemar" mengeluarkan air yang menganak sungai itu.
Dan sekali lagi, kau tidak menyadarinya.
Terlebih, kau tidak perduli padaku.


Terserah apa kata orang.
Terserah apa pendapat orang di ujung dunia sekalipun.
Aku tidak akan peduli.
Aku hanya peduli, sampai kapan kau bisa memperhatikanku?

Beratus-ratus kata-kata sudah ku keluarkan.
Berliter air mata sudah ku keluarkan pula.
1 lusin tissue (bahkan lebih) sudah ku pergunakan.
Dan yang lebih aku pergunakan ialah

"Hati yang kupergunakan untuk lebih bisa mengerti akan dirimu"

Tampaknya aku gagal.
Ya, aku orang yang munafik.
Teringat pada suatu hari kau berkata

"Akhirnya cewe ku bisa mengerti aku"

Bohong! Itu bukan aku!
Itu memang diriku, tetapi bukan sanubariku.

Tampaknya di saat aku menulis ini pun sepertinya kau tidak akan pernah sadar.
Berapa kali aku harus menangis?
Dan berapa kali pula aku harus menanggung semua ini?
Beban yang tak kunjung selesai.
Beban kita.

Aku bukan seseorang yang bisa kamu anggap dewasa.
Dan aku hanya berharap kamu bisa mengerti keadaanku ini.
Aku tidak menuntut lebih, selain
PERHATIANMU

Aku merasa sendiri, padahal kau selalu ada di dalam hatiku.
Aku merasa aku bukanlah kekasihmu.
Aku merasa hanya pajangan dalam hatimu.
Karena kamu tidak pernah sekalipun perduli padaku.

Aku bukan peramal yang bisa menebak akan dirimu.
SEKALI LAGI
Aku bukanlah seseorang yang bisa menebak sanubarimu.
Aku hanya anak kecil seperti yang kamu bilang, yang sedang berproses untuk masa transisi.

Semua orang beranggapan bahwa aku beban buatmu.
Aku terlalu membebanimu.
Dan aku tidak pernah bisa mengerti akan dirimu.

Tapi lihatlah aku.
Lihat melalui mata hatimu.
Terlalu lemahkah aku selama ini?
Dan aku selalu berusaha menahan air mata karenamu.

Hargai aku dengan segala usahaku.
Jangan pernah memandang aku hanya sebelah mata.
Jangan pandang aku melalui keegoisanmu.
Pandanglah aku sebagaimana aku memandang dirimu.
Yang selalu baik sebagaimanapun dirimu terhadapku.

Aku memang hakim untukmu
Jaksa yang banyak mau.
Pengacara yang menuntut hak.
Tetapi sebagaimana hak yang harus aku dapatkan.

Aku lelah untuk semua ini.
Dan aku berharap kamu mau untuk menerima semua kekesalanku.
Lihatlah aku disini, jangan pernah melihat ke orang lain.
Lihat bagaimana air mata ini kembali mengalir untukmu.

Aku BOSAN. SANGAT BOSAN.
Dan terlalu bosan sehingga aku muak dengan ini semua.
Aku harus mengubur perasaanku kembali.
Dan aku harus berkorban untuk menstabilkan emosiku.

"Tidakkah kau pikir itu terlampau sulit buatku?"

"Bayangkan hatiku ini seperti tembok yang kokoh dan keras. Di saat kau membuatku menangis, bayangkan kau menancapkan satu buah paku dengan dorongan palu hampir 1000x. Setiap kau membuatku menangis, paku itu akan melubangi tembok itu. Hingga akhirnya tembok ini akan hancur, dan tidak ada tempat untuk mengukir paku itu. Bayangkan itu sebagai hatiku. Dikala hatiku terlampau remuk, masih adakah sisa yang akan kuberi dalam sanubariku untukmu? Pikirkan itu dengan seksama, dan jangan pernah meremehkan aku sebagai perempuan yang lemah."


Sabtu, 14 Agustus 2010

Down

Maybe I'm the worst girl have you ever had.
Ngga pernah dewasa, kekanak-kanakan, dikit-dikit ngambek, dan ngga pernah bisa buat ngertiin *kamu.
(*kamu disini pasti kalian tau siapa)

Ini kata-kata yang kamu ucapin sama teman kamu, dan teman kita. Teman itu lelaki, dan teman lamamu. Aku tau, karena dia pernah mengucapkan itu ke aku. Sewaktu aku curhat ke dia tentang sikapmu. Dan ucapan itu membuatku sangat JATUH. Jatuh jauh ke dasar jurang yang sangat curam, dan butuh tali yang panjang untuk kembali ke atas.

Don't you know if i really miss you?
I don't know what i have to supposed to do. Hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Kamu pernah berkata, kalo aku ini satu-satunya cewe yang nangisin kamu, dan kamu senang.
Tapi aku nggatau, kenapa dikala aku nangis, kamu ngga pernah ada buat nenangin aku.
Yang ada kamu berkata tentang minusku ke teman kita. Padahal aku pengen kamu tau, I need your love, baby.

Aku ngga butuh hanya lewat lisan kamu. Please show it to me, if you really love me.

Aku bukan pertapa yang bisa tau tentang isi hati kamu ke aku. Karena aku cuma cewe kekanak-kanakan yang kamu bilang.

Ini ada sedikit gambar yang mencurahkan betapa sedihnya aku, ketika kamu mulai hilang. Tetapi kamu ngga sadar-sadar sampai detik ini aku menulis curahan hatiku ini. Dengan air mata seperti biasanya.

*kolom putih : That's me

*kolom biru : Teman curhat



*Baby, that's my old friend. He knows me. If I'm Childish, and I need a lot of support from you.*

Sabar-sabar-dan sabar. Berulang kali, i said that. Aku ngga pernah merasakan kalo kamu usaha buat berubah. Yang ada kamu pasrah dikala aku marah-marah, yang ada kamu diam aja dikala aku menitikkan air mata untukmu, dan yang lebih tepatnya lagi sikapmu menunjukkan kalo kamu ngga pernah peduli tentang apa yang akan terjadi atau sudah terjadi terhadapku.



"Aku terlalu lelah, dan aku terpaksa berkata seperti ini".


Setiap orang yang melihat kita, akan beranggapan bahwa aku terlalu egois untukmu. Dan kamu selalu mengalah demi aku. Tetapi apa kamu dan mereka tau? Aku berulang kali harus mengalah, menangis tanpa sepengetahuanmu, dan mengorbankan perasaanku demi mengerti sikapmu yang seperti ini. Dan aku selalu yakin bahwa saat ini kamu lebih baik dari siapapun yang dulu pernah aku punya.



Aku sangat kekanak-kanakan. Dan kamu sangat dewasa. Mungkin itu kata-kata tepat yang bisa aku utarakan dan aku tuliskan. Aku merasa bukan pacar yang patut dibanggakan orang pada umumnya, karena aku tau aku terlalu buruk untukmu. Dan untuk hubungan kita.



Kamu tau? Sejujurnya aku merasa bangga terhadap diriku sendiri.

Setidaknya dengan keadaan seperti ini, aku bisa mempertahankannya. Walupun secara tidak munafik aku pernah melontarkan aku sudah ngga sanggup menjalin hubungan denganmu lagi. Tapi lihat sekarang, kita masih bisa bersama. Walaupun tanpa disadari aku terlalu menyimpan rasa kekecewaanku terhadapmu. Karena aku nggamau memperpanjang masalah, dan aku berharap hubungan kita berjalan secara baik adanya.

Rasanya aku masih punya nyawa ketika mendengar temanku memberiku semangat. Kenapa pacarku sendiri tidak bisa memberi aku semangat? Padahal aku disini menangis karena dia.




"Tidak pernah ada dalam hati untuk menjelekkan dirimu.
Maaf, tapi ini satu-satunya caraku untuk mendefinisikan dan mengutarakan perasaanku tentangmu, dan terhadapmu. Hatimu seperti es batu. Aku butuh linggis untuk mencairkannya dalam sekejap, tanpa kamu ketahui bahwa linggis itu seperti menggoreskan luka di hatiku sekarang. Tetapi aku tidak pernah mengerti kenapa es batu itu sangatlah cepat membeku. Terlebih lagi terhadap diriku, pacar yang tidak pernah bisa dibanggakan.
"



Mungkin banyak orang bertanya "kenapa harus ditulis lewat blog? Kenapa ngga dibicarakan secara langsung?".

Jawabannya sudah kalian baca diatas : Karena aku tau, lewat lisan aku udah ngga sanggup.
Aku udah berulang mengucapkan hal yang sama. Bisa dibilang kaya kaset rusak. Yang mengulang kata dan hal yang sama. Padahal kamu disana tidak pernah menyadari hal itu, yang notabene sebenarnya itu racun buat kita.

Kamu bosan? Sama, aku terlebih bosan. Sangat bosan. Tetapi aku tidak pernah mengerti, kenapa aku harus merasakan hal yang sama. Hanya itu, dan memang hanya itu. Padahal aku selalu mengingatkanmu, selalu mengingatkanmu. Demi kita.

--- You have to know :

Banyak yang memintaku untuk mengakhiri ini semua. Mengakhiri hubungan kita.
Aku sangat sedih mendengarnya, tetapi aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku bisa menjalani ini semua dengan ikhlas. ---


"Sampe detik ini aku menangis".



Lagi-lagi kalimat ini yang harus aku tuliskan. Aku merasa sangat BURUK. Dan aku merasa aku jauh dari harapanmu, maafkan aku sebelumnya. Mungkin yang kamu punya dulu lebih baik daripada aku saat ini. Tapi aku pengen kamu tau, bahwa sikap yang aku tunjukkan kurang lebih karena aku mencemaskan hubungan kita.

Yang lebih kamu harus tau... Aku berusaha tersenyum ketika berkomunikasi denganmu.. Tanpa sadar emosiku semua telah terpendam, dan emosi itu telah mati saat ini. Terlebih kamu satu-satunya pacar yang berani aku perkenalkan kepada orangtuaku. Terutama ayahku. Semua aku berani lakukan, dengan satu alasan. Karena aku mempercayaimu untuk memimpin hubungan kita.


"Aku sempat berfikir, sepertinya lebih baik aku mundur dari kehidupanmu. Itu artinya, kita tidak lagi bisa bersama. Karena semakin aku merenung, aku semakin menyadari. bahwa aku berbeda denganmu. Dan tampaknya aku tidak bisa menjadikan diriku seperti yang kamu inginkan."



As the picture as my heart. Terbelah jadi dua, remuk, dan ngga tau harus disambung pake apa.

Hingga detik ini kamu tidak pernah menyadari betapa sakit dan lelahnya hatiku sekarang. Kamu santai disana, menjalani harimu seperti biasanya. Tetapi tidak denganku.

Kamu merasa hubungan kita baik-baik saja. Tetapi aku merasa hubungan kita sudah sangat diambang kehancuran.

Dan lebih parahnya lagi, aku menyadari bahwa aku ini buruk untukmu, sangat buruk. Dan aku hanya beban buatmu. Ditambah orang-orang melihat kita sangat akur, tidak pernah ada masalah dan bisa mengerti satu sama lain. SALAH BESAR, karena sampai saat ini aku memendam rasa tangis yang sangat besar. Dan kamu tidak akan pernah tau sebelumnya. Bahwa aku disini, di tempat aku sekarang berdiri menyimpan berjuta-juta rasa sedih.

Sangat menyedihkan mengetahui kenyataan bahwa aku disini tidak sepadan denganmu disana. Aku harus menyatukan itu, dan itu tugas yang sangat berat buatku. Aku sendiri ngga sanggup untuk menyatukan kita, tanpa bantuanmu.

Tapi aku rasa kamu bisa bernafas lega, karena saat ini selama sekarang 9bulan kita bersama, aku sudah membiasakan diriku denganmu. Menurutku ini kemajuan buatku, karena secara tidak langsung aku bisa menerima kekuranganmu.

--- "Karena dia yakin, lo merupakan pelabuhan terakhirnya." ---

Aku sedikit tenang dan bisa percaya diri mendengar pernyataan diatas. Pernyataan itu terlontar dari mulut temanmu dan teman kita. Dia berusaha meyakinkanku, bahwa apa yang aku pikirkan selama ini untuk menghilang dari kehidupanmu adalah tindakan yang sangat salah. Dia berusaha menguatkanku, dan mendorongku agar berubah. Agar aku tidak menyerah. Karena semua orang yakin dengan hubungan kita. Tetapi ada satu pertanyaan yang mengacaukanku. Kenapa kau tidak pernah berterus terang terhadapku? Karena begitu mendengarnya dari orang lain, aku merasa kau tidak pernah mempercayaiku untuk berubah.

Mungkin ucapanku hanya oksigen yang kamu hirup sesaat lalu berubah menjadi karbondioksida yang merupakan sampah dari kehidupanmu. Tanpa kamu ketahui, dadaku sudah sesak dengan tangisanku sendiri karenamu.

"Everyone, please help me to make me strong and never cry about him."